UPT Galeri ISI Yogyakarta
+62 274 379133

Pameran Seni Rupa Alumni ISI Yogyakarta “Figurasi”

Di penghujung tahun 2013,  Galeri Seni ISI Yogyakarta mengadakan gawe seni regulernya dengan menggandengan alumni dari FSR ISI Yogyakarta untuk menggelar pameran seni dengan tajuk “FIGURASI”. Anusapati, menjadi kurator Pameran Seni Rupa Alumni ISI Yogyakarta “Figurasi” yang digelar UPT Galeri Seni ISI Yogyakarta di Galeri ISI Yogyakarta yang dimulai tanggal 18 Desember 2013 hingga 15 Januari 2014.

Untuk lebih membantu menerangkan dan memaparkan konsep pameran ini, berikut kami hadirkan tulisan kuratorial Anusapati dalam menafsirkan tajuk “FIGURASI”.

********
Kekuatan penggambaran figur secara realistik merupakan salah satu ciri dari seni rupa Jogja, yang dimulai sejak masa awal pertumbuhan seni rupa modern Indonesia.Lahirnya PERSAGI, Sanggar Pelukis Rakjat, Pelukis Indonesia Muda dengan tokoh-tokohnya seperti Affandi, Soedjojono, Hendra Gunawan dll. Mereka ini menjadi tonggak perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selanjutnya melahirkan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta, yang kemudian menjadi STSRI “ASRI” dan sejak 1984 hingga sekarang ini menjadi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Sebagai sekolah seni tertua di Indonesia yang lahir dari rahim revolusi kemerdekaan RI, ASRI sangat diwarnai oleh semangat kebangsaan yang terwujud dalam usaha mencari ciri “keindonesiaan” di dalam seni rupa. Meskipun secara akademis sekolah ini menganut metode pembelajaran dari barat, tetapi semangat kebangsaan tersebut, serta spirit kemanusiaan sangat kuat mewarnai pandangan estetik di dalam lembaga pendidikan ini.

Inilah yang kemudian menjadi ciri dan sekaligus kekuatan dari praksis penciptaan karya-karya di ASRI yang membedakannya dengan lembaga pendidikan seni lain di Indonesia, seperti di Bandung atau Jakarta.

Spirit nasionalisme ini terutama diwariskan oleh para seniman pelopor lahirnya “seni lukis Indonesia baru”, dengan tokohnya Sudjojono di masa awal berdirinya republik ini. Mereka memperkenalkan “realisme” yang merupakan perlawanan atas corak seni lukis yang ada sebelumnya, yaitu seni lukis yang dianggap hanya mengekploitasi romantisme keindahan alam Indonesia, yang mereka sebut lukisan “mooi Indie”. Mereka menganggap corak relisme lebih sesuai menggambarkan realitas yang ada masyarakat ketika itu.

Pengertian “realisme” yang dimaksudkan oleh Sudjojono memang tidak jauh dari pemahaman realisme dalam seni lukis modern dunia yang dicanangkan oleh Gustav Courbet (lahir di Prancis, 1819) di pertengahan abad XX. Di dalam prinsip realisme ini, Courbet menegaskan bahwa seni seharusnya mempresentasikan realitas, seperti ungkapannya : “… painting is an essentially concrete art and can only consist of the presentation of real and existing things”.

Ungkapan lain yang terkenal, yaitu: “Show me an Angel, and I will paint one”, menegaskan pentingnya kenyataan yang ada sebagai dasar penciptaan karya seni. Dalam hubungannya dengan hal ini, Sudjojono merasa bahwa gagasan tentang mengangkat realitas nyata yang ada dalam keseharian ini ke dalam ekspresi estetik adalah sesuai dengan kondisi seni lukis Indonesia saat itu. : “Realisme bukanlah kepunyaan barat saja. Realisme adalah kepunyaan kita bersama, kepunyaan tiap-tiap manusia”.

Seperti dalam pendidikan seni konservatif, maka penguasaan skill sebagai keahlian dasar dianggap memegang peran sangat penting. Di dalam hal ini pendidikan seni di ASRI mengacu pada tradisi pendidikan seni barat yang menggunakan figur manusia sebagai objek, sekaligus subjek kajian di dalam praktek penciptaan karya.

Penguasaan menggambar, melukis atau mematung figur manusia di ASRI dianggap merupakan dasar yang penting di dalam membentuk kemampuan artikulasi artistik seorang seniman. Keterampilan melukis dan mematung figur secara realistik-fotografik dianggap prasyarat bagi mahasiswa, sebelum ia bisa beralih kepada corak atau gaya pilihannya. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor kuat di dalam membentuk seniman-seniman lulusan sekolah seni ini.

Pameran ini menampilkan karya seniman alumni STSRI ‘ASRI’ dan ISI Yogyakarta yaitu karya seni rupa (lukis, patung, grafis) kontemporer yang berbasis representasi figur realistik- fotografik, yang memperlihatkan selain keterampilan teknik, juga kekuatan penggunaan citra figur secara kreatif sebagai idiom utama dalam karya-karyanya.

Peserta pameran adalah seniman yang terlihat secara konsisten berkarya dengan menggunakan idiom figuratif sebagai representasi berbagai persoalan yang diangkat dalam karya-karyanya. Terutama adalah representasi figur secara realistik yang menunjukkan bukan hanya penguasaan dan kekuatan teknis, tetapi juga intensitas dan penghayatan senimannya atas sosok tubuh manusia sebagai bahasa ungkap visual.

FIGURASI merupakan kata yang mengandung beberapa makna yang saling berkaitan. Kata ini merupakan alih kata bahasa Inggris figuration yang berasal dari kata dasar figure, yang berarti sosok (tubuh) atau ujud (benda), selain juga berarti angka. Sedangkan figurasi dapat dimaknakan sebagai proses atau perbuatan menggambarkan sosok tubuh manusia ataupun menghadirkan bentuk/ujud secara umum.

Sedangkan frase ‘figure of speech’ mengandung pengertian ‘bentuk ungkapan’ (dalam bahasa verbal). Dalam konteks judul pameran ini, Figurasi adalah proses penggambaran sosok tubuh manusia sebagai upaya seniman di dalam menciptakan ungkapan visual yang memuat ide-ide kreatif yang dipergunakan di dalam mengangkat isu-isu yang menjadi perhatian seniman, umumnya adalah yang menyangkut persoalan-persoalan kehidupan.

Di dalam karya-karya figuratif ini, sosok tubuh selalu menjadi subject matter, meskipun diolah ke dalam tema-tema yang beragam. Kerentaan tubuh orang tua, misalnya, adalah gambaran dari kerapuhan dan ketidakabadian.

Sedangkan kecantikan sosok perempuan sebagai representasi dari keindahan, kelembutan dan gairah. Penggambaran yang nyata secara mimetik, dengan menampilkan gestur, anatomi serta ekspresi wajah secara realistik merupakan cara untuk menampilkan realitas fisik yang paling dekat dengan keseharian kita, yaitu tubuh.

Dengan demikian sosok tubuh, di dalam pandangan seniman figuratif, diperhitungkan sebagai ungkapan yang paling efektif di dalam mengkomunikasikan gagasan, pemikiran dan perasaan senimannya. Baik di dalam seni lukis, seni patung ataupun seni grafis, pilihan atas corak realistik ini tentu juga didasari oleh kemampuan teknis yang harus dimiliki untuk dapat mendukung kualitas dan kekuatan ungkapan pada karyanya.
Kemampuan teknis ini selain didapat dari latihan, pada dasarnya juga dibentuk oleh minat dan dasar kemampuan bawaan, yang disebut bakat. Bakat besar, disertai dengan latihan yang terus-menerus memunculkan penghayatan yang intens atas sosok tubuh dalam berbagai dimensinya, yang senantiasa menjadi perhatian seorang seniaman. Intensitas yang didasari oleh pengenalan mendalam pada objeknya tentunya akan memberikan kekuatan pada ungkapan visual karyanya.

Karya-karya dalam pameran ini, baik yang dua dimensional maupun yang berupa patung tiga dimensional menunjukkan hal itu. Berbagai tema digarap, dalam beragam perwujudan, dengan menggunakan kekuatan visual bentuk tubuh . Secara naratif ataupun simbolik, mereka bertutur mengenai isu-isu sosial, lingkungan, hingga persoalan yang sangat personal dalam ungkapan estetik masing-masing yang mencerminkan spirit kekinian.

 

Baliho pameran Figurasi

suasana pengunjung pameran Figurasi di lantai 1 Galeri Seni ISI Yogyakarta

suasana pengunjung pameran Figurasi di lantai 1 Galeri Seni ISI Yogyakarta

Pembukaan pameran oleh Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Hermien

Pembukaan pameran oleh Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Hermien

Suasana Sarasehan pameran Figurasi
Suasana Sarasehan pameran Figurasi

pembicaranya ada Bung Yuswantoro Adi dan Bung  Ivan Sagito

pembicaranya ada Bung Yuswantoro Adi dan Bung Ivan Sagito

 

Tinggalkan Balasan

Geleri Seni ISI Yogyakarta